sekarang ini banyak sekali saran2 pengembangan diri, mulai dari bagaimana menjadi sukses, kaya, dll. juga banyak sekali orang yang berbaik hati mengirimkan sebaris dua puluh baris kata-kata, yang intinya mendorong kita untuk meraih sukses, meraih rejeki, meraih impian, menjadi pemimpin, orang penting. dalam kata lain, menjadi 'superman'.
kadang aku jadi mikir. emang harus?
hidup itu masalah pilihan, selama memang masih ada pilihan. dan rasanya selalu ada pilihan, meski kadang pilihannya tidak ideal. tapi selalu ada.
lalu, klo ada yg memilih untuk biasa2 saja, untuk bermimpi sedang2 saja, untuk tidak menjadi kaya luar biasa tapi berkecukupan, untuk tidak menjadi orang top tapi cukup berada di tengah, apakah salah?
klo ada yang milih jadi pengikut dan bukan pemimpin, jadi orang kebanyakan dan bukan elite, apakah salah?
di sisi lain ada yang teriak2 'be true to yourself'. lalu, klo your true self sudah cukup jadi dirimu yang sekarang, yang bahagia dengan kondisi yang sekarang, dan akan terus bersyukur dengan keadaan serba ada yang sekarang, apa salah?
haruskah kita semua menjadi besar? haruskah kita semua ada di depan? haruskah kita semua berada di atas?
even the greatest machinary needs its tiny part to work perfectly.
Friday, October 14
Tuesday, October 11
waktu molor
pernah baca buku 'mimpi-mimpi einstein'? intinya buku itu mengenai teori relativitas waktu. buku yang cukup enak dan bagus dibaca oleh awam, dengan hanya sedikit saja pemahaman mengenai teorinya.
pagi ini, terasa sekali teori 'time flies when we are having fun', yang entah digagas oleh siapa, berlaku di kehidupan. sayang yang berlaku padaku sepagian ini adalah yang sebaliknya.
waktu terasa terseret-seret di sepanjang perjalananku yang satu jam lebih sedikit itu melewati jalan jakarta yang sudah tak tertolong lagi macetnya.
tiba di kantor, kondisi tidak banyak berubah. aku pikir sekarang (saat aku menulis ini), sudah dekat waktu makan siang. ternyata, baru pukul sepuluh lebih dikit. mengapa satu jam terasa lebih dari enam puluh menit pagi ini?
lucunya, di pagi yang benar-benar pagi, saat anak-anak baru mulai bangun dan bersiap ke sekolah, waktu seperti berlari. sementara anak-anak itu terjebak di kecepatan merambat. dibutuhkan dorongan berupa olah urat leher untuk bisa membuat anak-anak mendekati kecepatan waktu yang terbang. luar biasa.
pertanyaannya sekarang: harus melakukan apa aku agar waktu bisa bergerak lebih cepat sedikit, dan tidak molor seperti ini?
hoahem....
pagi ini, terasa sekali teori 'time flies when we are having fun', yang entah digagas oleh siapa, berlaku di kehidupan. sayang yang berlaku padaku sepagian ini adalah yang sebaliknya.
waktu terasa terseret-seret di sepanjang perjalananku yang satu jam lebih sedikit itu melewati jalan jakarta yang sudah tak tertolong lagi macetnya.
tiba di kantor, kondisi tidak banyak berubah. aku pikir sekarang (saat aku menulis ini), sudah dekat waktu makan siang. ternyata, baru pukul sepuluh lebih dikit. mengapa satu jam terasa lebih dari enam puluh menit pagi ini?
lucunya, di pagi yang benar-benar pagi, saat anak-anak baru mulai bangun dan bersiap ke sekolah, waktu seperti berlari. sementara anak-anak itu terjebak di kecepatan merambat. dibutuhkan dorongan berupa olah urat leher untuk bisa membuat anak-anak mendekati kecepatan waktu yang terbang. luar biasa.
pertanyaannya sekarang: harus melakukan apa aku agar waktu bisa bergerak lebih cepat sedikit, dan tidak molor seperti ini?
hoahem....
Thursday, October 6
on being such on the margin of it all
sometimes i see myself as a square peg in a round hole.
maybe it is because of the way i was brought up.
i got 3 older brothers. no sister. so i was the odd man out.
i was the only daughter and also the youngest. that just amplified my oddness.
in the light of seeing things from the positive side, i'll change oddness to my UNIQUEness.
the singalurity of being me, albeit on the margin of it all.
by IT i meant the species we all refer to as woman.
i never quite understand the women's league.
them as a pack. they are quite scarry.
watched mars needs mom?
the women are regulated and stiff, while the men are the embodiment of freedom.
with the female group, to deviate means your death.
ever read the dynamics of a harem?
if it ever occured to them to join forces within themselves, the stud wouldn't have stand a chance.
instead, women there conspire against each others, trying to win the most attention, the highest status, et cetera. theye even killed their competitors. competitors? weren't they all victims? that was not how they see themselves. in a pack, there should be leader. leader got all the advantages and perks. advantages set you apart. advantages give you the power over the others. that's why instead of being there with all of the others, you just gotta be the leader. at all cost.
ever watched the pack of 'ibu2 dharma wanita'?
that's the scarriest of them all.
you, my reader, don't need explanation on that. faux leadership built on the spouse's position - used to the maximum to gain power and influences over other mere mortals. every steps must be in synch to the matriach, every gesture has to be approved by her. even dress code must be to the lady bosses taste. the words of the leader is the words of the pack. you don't want to be conspicuous in that sort of pack. you draw attention to yourself, you are excomunicated. only the leader shall stand out.
women as a pack got that power: to ruin. to cause discomfort. to instill fear. but perhaps, for those as the members, it also give them life support. you bring your loyalty, you got your safety net in the maze of social world.
i live on the margin of it all. i dont' belong to any pack. i am a singular being. it's kinda lonely sometimes. but then i have the freedom not to bow to anyone.
i've got enough of life support near me: my family. that's my pack. with them, i am no longer on the margin.
maybe it is because of the way i was brought up.
i got 3 older brothers. no sister. so i was the odd man out.
i was the only daughter and also the youngest. that just amplified my oddness.
in the light of seeing things from the positive side, i'll change oddness to my UNIQUEness.
the singalurity of being me, albeit on the margin of it all.
by IT i meant the species we all refer to as woman.
i never quite understand the women's league.
them as a pack. they are quite scarry.
watched mars needs mom?
the women are regulated and stiff, while the men are the embodiment of freedom.
with the female group, to deviate means your death.
ever read the dynamics of a harem?
if it ever occured to them to join forces within themselves, the stud wouldn't have stand a chance.
instead, women there conspire against each others, trying to win the most attention, the highest status, et cetera. theye even killed their competitors. competitors? weren't they all victims? that was not how they see themselves. in a pack, there should be leader. leader got all the advantages and perks. advantages set you apart. advantages give you the power over the others. that's why instead of being there with all of the others, you just gotta be the leader. at all cost.
ever watched the pack of 'ibu2 dharma wanita'?
that's the scarriest of them all.
you, my reader, don't need explanation on that. faux leadership built on the spouse's position - used to the maximum to gain power and influences over other mere mortals. every steps must be in synch to the matriach, every gesture has to be approved by her. even dress code must be to the lady bosses taste. the words of the leader is the words of the pack. you don't want to be conspicuous in that sort of pack. you draw attention to yourself, you are excomunicated. only the leader shall stand out.
women as a pack got that power: to ruin. to cause discomfort. to instill fear. but perhaps, for those as the members, it also give them life support. you bring your loyalty, you got your safety net in the maze of social world.
i live on the margin of it all. i dont' belong to any pack. i am a singular being. it's kinda lonely sometimes. but then i have the freedom not to bow to anyone.
i've got enough of life support near me: my family. that's my pack. with them, i am no longer on the margin.
Tuesday, October 4
pygmalion effect
topik ini ada dalam utas (thread) dari suatu milis yang aku ikuti, milis mengenai penerjemahan dan bahasa.
copas dari Wikipedia, isinya adalah:
The Pygmalion effect, or Rosenthal effect, refers to the phenomenon in which the greater the expectation placed upon people, often children or students and employees, the better they perform. The effect is named after Pygmalion, a Cypriot sculptor in a narrative by Ovid in Greek mythology, who fell in love with a female statue he had carved out of ivory.
The Pygmalion effect is a form of self-fulfilling prophecy, and, in this respect, people with internalize their negative label, and those with positive labels succeed accordingly. Within sociology, the effect is often cited with regard to education and social class.
ketika orang bicara yang bagus2 tentang anaknya, sebetulnya, mereka bukan pamer. itu adalah doa dan harapan, dan semacan ini juga 'self-fulfilling prophecy'. anak yang dibesarkan dengan kepercayaan bahwa ia baik, akan merasa dirinya baik, dan akhirnya akan benar2 menjadi baik.
sebaliknya dengan 'labeling': memberi 'label' atau nama pada anak, misalnya: dasar nakal, dasar bodoh, anak malas, dst. labeling mengacu pada penamaan yang buruk atau negatif. jika anak selalu dikatakan bahwa ia nakal, bodoh, kurang pikir, dll - maka ia akan percaya bahwa memang dirinya seperti itu, dan perkembangan yang seharusnya bisa baik jadi terhambat.
okay... easy to say, hard to do.
seperti semua hal ttg menjadi orang tua, tidak ada manual yang bener2 merangkum apa yang boleh dan tidak, apa yang berhasil dan tidak, dan apa yang harus dilakukan jika ada deviasi. you learn as you go. you learn as you live your life.
i am still learning, and sometimes so poorly at that.
i have made my mistakes, and am still trying to undone the damage. or at least stop it from continuing. so I hope. so I believe. i have to believe.
every day gives you new and different challenges. kegiatan yang sama bisa menimbulkan reaksi yang berbeda, klo kondisi hati juga berbeda. mungkin itu kuncinya, minimal buat orang seperti saya. kondisi hati. menata hati.
jadi orang tua memang begitu. what you do affects those around you. what you say affects those around you. those around you, the closest, are your children.
kadang memikirkannya bikin hati jadi ciut. am i good enough? will they (my children) be good enough? you just gotta believe.
believe. in the good in every person, in every thing, in every reason. coz when you start to believe, they will start to be.
pygmalion. start believing that things are good. amen.
copas dari Wikipedia, isinya adalah:
The Pygmalion effect, or Rosenthal effect, refers to the phenomenon in which the greater the expectation placed upon people, often children or students and employees, the better they perform. The effect is named after Pygmalion, a Cypriot sculptor in a narrative by Ovid in Greek mythology, who fell in love with a female statue he had carved out of ivory.
The Pygmalion effect is a form of self-fulfilling prophecy, and, in this respect, people with internalize their negative label, and those with positive labels succeed accordingly. Within sociology, the effect is often cited with regard to education and social class.
ketika orang bicara yang bagus2 tentang anaknya, sebetulnya, mereka bukan pamer. itu adalah doa dan harapan, dan semacan ini juga 'self-fulfilling prophecy'. anak yang dibesarkan dengan kepercayaan bahwa ia baik, akan merasa dirinya baik, dan akhirnya akan benar2 menjadi baik.
sebaliknya dengan 'labeling': memberi 'label' atau nama pada anak, misalnya: dasar nakal, dasar bodoh, anak malas, dst. labeling mengacu pada penamaan yang buruk atau negatif. jika anak selalu dikatakan bahwa ia nakal, bodoh, kurang pikir, dll - maka ia akan percaya bahwa memang dirinya seperti itu, dan perkembangan yang seharusnya bisa baik jadi terhambat.
okay... easy to say, hard to do.
seperti semua hal ttg menjadi orang tua, tidak ada manual yang bener2 merangkum apa yang boleh dan tidak, apa yang berhasil dan tidak, dan apa yang harus dilakukan jika ada deviasi. you learn as you go. you learn as you live your life.
i am still learning, and sometimes so poorly at that.
i have made my mistakes, and am still trying to undone the damage. or at least stop it from continuing. so I hope. so I believe. i have to believe.
every day gives you new and different challenges. kegiatan yang sama bisa menimbulkan reaksi yang berbeda, klo kondisi hati juga berbeda. mungkin itu kuncinya, minimal buat orang seperti saya. kondisi hati. menata hati.
jadi orang tua memang begitu. what you do affects those around you. what you say affects those around you. those around you, the closest, are your children.
kadang memikirkannya bikin hati jadi ciut. am i good enough? will they (my children) be good enough? you just gotta believe.
believe. in the good in every person, in every thing, in every reason. coz when you start to believe, they will start to be.
pygmalion. start believing that things are good. amen.
Wednesday, September 28
full doa
naek angkutan umum di jakarta itu benar2 membuat kita semakin dekat dengan Tuhan. gimana tidak? klo setiap kli naik angkutan, doa ga putus2 terucap di hati?
contohnya waktu aku pulang dari kursus kemarin senin.
ojeg yang saya tumpangi, mendengar tujuan saya 'manggarai', serta merta ambil jalan pintas, serobot jalur busway, dan kemudian ngebut semerdeka-merdekanya. akhirnya saya tepuk bahu si tukang ojeg. terjadilah percakapan ini:
Sapobi (S): pak, biasa aja lah.. ga usah ngebut.
sambil nengok sedikit, si pak ojeg (Oj) bilang: kan eneng ngejar kereta? ntar telat?
S: lah.. saya mau ke terminal bis pak, ga ke stasiun kereta.. ga ngejar apa2.
Oj: oh......kirain neng....
untunglah si Oj habis itu melambatkan motornya, dan saya bisa duduk dengan sedikit merasa aman
babak kedua berdoa dimulai sesegera aku naik bis S62 jurusan manggarai - pasar minggu.
supir, kenek, dan dayang2nya (ada satu anak perempuan yang jelas2 teman mereka), semua masih remaja tanggung. baru 17 lewat dikiiiit, kayaknya. dan bisa menebaklah kita kualitas remaja jalanan jakarta ini: agak2 kurang lengkap di otak, dan jelas2 minim rasa tanggung jawabnya. kalo menurut natgeo yang mengupas permasalahan otak para remaja, bukan rasa tanggung jawab sebetulnya yang kurang, tapi rasa 'mari kita coba dan liat sampe sejauh mana kita bisa bertahan' itu yang bikin mereka terlihat agak2 kurang beres pemikirannya.
dengan kombinasi hormon yang bergejolak, gelombang otak yang belum stabil, dan pendidikan ala kadarnya serta (dijamin!) pemahaman peraturan lalu lintas yang nyaris NOL, supir serta kenek remaja itu memegang hidup seluruh penumpang bis.
miris rasanya menyerahkan nasib pada gerombolan seperti itu. ditambah lagi memasrahkan diri pada kondisi bis yang kotor, panas, dan tidak jelas standar keamanannya.
sungguh, yang bisa dilakukan hanya berdoa, berharap Tuhan masih memberi rejeki pada hari ini untuk aku bertemu dengan orang2 yang kusayang.
lebih miris lagi berpikir bahwa: aku, dengan isi dompetku, masih punya pilihan untuk lebih manja dan, dengan alasan keamanan, memilih taksi biru muda metalik dengan supir berseragam batik yang kesohor pelayanannya itu.
beribu2 orang jakarta lain tak punya pilihan untuk selain terus berdoa.
semangad pagi....
/Sapobi
contohnya waktu aku pulang dari kursus kemarin senin.
ojeg yang saya tumpangi, mendengar tujuan saya 'manggarai', serta merta ambil jalan pintas, serobot jalur busway, dan kemudian ngebut semerdeka-merdekanya. akhirnya saya tepuk bahu si tukang ojeg. terjadilah percakapan ini:
Sapobi (S): pak, biasa aja lah.. ga usah ngebut.
sambil nengok sedikit, si pak ojeg (Oj) bilang: kan eneng ngejar kereta? ntar telat?
S: lah.. saya mau ke terminal bis pak, ga ke stasiun kereta.. ga ngejar apa2.
Oj: oh......kirain neng....
untunglah si Oj habis itu melambatkan motornya, dan saya bisa duduk dengan sedikit merasa aman
babak kedua berdoa dimulai sesegera aku naik bis S62 jurusan manggarai - pasar minggu.
supir, kenek, dan dayang2nya (ada satu anak perempuan yang jelas2 teman mereka), semua masih remaja tanggung. baru 17 lewat dikiiiit, kayaknya. dan bisa menebaklah kita kualitas remaja jalanan jakarta ini: agak2 kurang lengkap di otak, dan jelas2 minim rasa tanggung jawabnya. kalo menurut natgeo yang mengupas permasalahan otak para remaja, bukan rasa tanggung jawab sebetulnya yang kurang, tapi rasa 'mari kita coba dan liat sampe sejauh mana kita bisa bertahan' itu yang bikin mereka terlihat agak2 kurang beres pemikirannya.
dengan kombinasi hormon yang bergejolak, gelombang otak yang belum stabil, dan pendidikan ala kadarnya serta (dijamin!) pemahaman peraturan lalu lintas yang nyaris NOL, supir serta kenek remaja itu memegang hidup seluruh penumpang bis.
miris rasanya menyerahkan nasib pada gerombolan seperti itu. ditambah lagi memasrahkan diri pada kondisi bis yang kotor, panas, dan tidak jelas standar keamanannya.
sungguh, yang bisa dilakukan hanya berdoa, berharap Tuhan masih memberi rejeki pada hari ini untuk aku bertemu dengan orang2 yang kusayang.
lebih miris lagi berpikir bahwa: aku, dengan isi dompetku, masih punya pilihan untuk lebih manja dan, dengan alasan keamanan, memilih taksi biru muda metalik dengan supir berseragam batik yang kesohor pelayanannya itu.
beribu2 orang jakarta lain tak punya pilihan untuk selain terus berdoa.
semangad pagi....
/Sapobi
Subscribe to:
Posts (Atom)