(1)
ketikaku merindumu
detik-detik bergeming
hingga jam tak jua kusua
(2)
rinduku tertahan pada ujung-ujung jari
yang sudah gatal untuk mengetuk keyboard
menyampaikan benang aksara
memintal kata
dan menenun cinta
Thursday, October 27
kerja kerja kerja
gara2 mbaca imel temenku yang cerita klo dia lagi jadi 'single dad' karena bojonya pergi ke luar kota, jadi mikir: sebenernya, kita kerja tuh buat apa, ya? buat siapa? gunanya apa? apakah menyumbang bagi 'kemanusiaan'?
pada kasusku:
dari pagi, dah sibuk mo ninggalin keluarga. ribet di pagi hari karena waktu yang mepet buat siapin anak2 mau ke sekolah. anak2 berangkat, tarik napas dikit dan siap2 berangkat kerja. di tempat kerja, pada keadaan yang sekarang, alhamdulillah (nyoba liat dari segi baiknya lah), kerjaan ga berat, beban kecil, namun harus manis setor muka dari jam 08:00 sampe jam 17:00. kesimpulan, dari jam sekian hingga sekian aku absen dari rumah. dan lucunya aku, klo sudah absen dari rumah, pikiran ttg rumah ikutan absen: jadi 'konsentrasi' dengan urusan pekerjaan (salah, bukan pekerjaan, tapi 'pikiran non-rumah'), dan pasrah dengan keadaan di rumah yang, bukan aku ga peduli, tapi ga pernah aku tanya2kan. no news is good news. selama ga ada yang nelpon dari rumah, everything is fine.
jam 17:00 lebih dikit, demi menjaga reputasi, karena ga setiap hari aku bisa menaruh pantat on time jam 08:00 di kantor, aku hengkang dari kantor. sama seperti absen dari rumah, begitu keluar dari pintu kantor, urusan kantor hilang dari benak. kejadian bawa2 kerjaan, kertas2, cuma buat berat2in tas doang. wong akhirnya di rumah juga dilupakan kok.
12 hours a day. that's the general total of my time devoted, nah... not devoted lah... just 'concentrated', for work. non-domestic, non-family related. lah, kok jadi basa londo.
12 jam perhari aku curahkan untuk kegiatan yang non-keluarga, non-rumah. sisa tinggal 12 jam lagi dari yang 24. 8-nya buat tidur. tinggal 4. dari sekian banyak jam, mentok cuma 20% yang dicurahkan untuk keluarga: orang2 yang terdekat buat kita.
konon, kita kerja buat keluarga: buat cari uang - yang buat beli sandang pangan papan, buat bayar pendidikan, dst dst. klo emang ya, kok waktu buat keluarga jadi tercuri sedemikian rupa, ya?
pembalasan waktu yang tercuri ini, dengan libur2 'berkualitas' di tengah semester, di akhir tahun; libur2 mini di weekend, apa cukup, sebenernya?
well, hari gini, emang pilihan hidup ya kerja (baik sendiri atau jadi 'pesuruh korporat') dan cari uang yg cukup buat hidup yang menurut standar kita 'berkualitas'. selama pilihan masih ada, dan memungkinkan, perlu juga diinggat bahwa ujung2nya, kerja buat siapa sih? those pairs of eyes that love us so much, that welcome us in the evening when we got home, those that miss us when we are away. buat mereka, sebenernya. those little startlights who someday become like us: parents.
ah... parenthoood.....
yo terusin kerjaaa.....
pada kasusku:
dari pagi, dah sibuk mo ninggalin keluarga. ribet di pagi hari karena waktu yang mepet buat siapin anak2 mau ke sekolah. anak2 berangkat, tarik napas dikit dan siap2 berangkat kerja. di tempat kerja, pada keadaan yang sekarang, alhamdulillah (nyoba liat dari segi baiknya lah), kerjaan ga berat, beban kecil, namun harus manis setor muka dari jam 08:00 sampe jam 17:00. kesimpulan, dari jam sekian hingga sekian aku absen dari rumah. dan lucunya aku, klo sudah absen dari rumah, pikiran ttg rumah ikutan absen: jadi 'konsentrasi' dengan urusan pekerjaan (salah, bukan pekerjaan, tapi 'pikiran non-rumah'), dan pasrah dengan keadaan di rumah yang, bukan aku ga peduli, tapi ga pernah aku tanya2kan. no news is good news. selama ga ada yang nelpon dari rumah, everything is fine.
jam 17:00 lebih dikit, demi menjaga reputasi, karena ga setiap hari aku bisa menaruh pantat on time jam 08:00 di kantor, aku hengkang dari kantor. sama seperti absen dari rumah, begitu keluar dari pintu kantor, urusan kantor hilang dari benak. kejadian bawa2 kerjaan, kertas2, cuma buat berat2in tas doang. wong akhirnya di rumah juga dilupakan kok.
12 hours a day. that's the general total of my time devoted, nah... not devoted lah... just 'concentrated', for work. non-domestic, non-family related. lah, kok jadi basa londo.
12 jam perhari aku curahkan untuk kegiatan yang non-keluarga, non-rumah. sisa tinggal 12 jam lagi dari yang 24. 8-nya buat tidur. tinggal 4. dari sekian banyak jam, mentok cuma 20% yang dicurahkan untuk keluarga: orang2 yang terdekat buat kita.
konon, kita kerja buat keluarga: buat cari uang - yang buat beli sandang pangan papan, buat bayar pendidikan, dst dst. klo emang ya, kok waktu buat keluarga jadi tercuri sedemikian rupa, ya?
pembalasan waktu yang tercuri ini, dengan libur2 'berkualitas' di tengah semester, di akhir tahun; libur2 mini di weekend, apa cukup, sebenernya?
well, hari gini, emang pilihan hidup ya kerja (baik sendiri atau jadi 'pesuruh korporat') dan cari uang yg cukup buat hidup yang menurut standar kita 'berkualitas'. selama pilihan masih ada, dan memungkinkan, perlu juga diinggat bahwa ujung2nya, kerja buat siapa sih? those pairs of eyes that love us so much, that welcome us in the evening when we got home, those that miss us when we are away. buat mereka, sebenernya. those little startlights who someday become like us: parents.
ah... parenthoood.....
yo terusin kerjaaa.....
Tuesday, October 25
be something to someone
I don’t wish to be everything to everyone, i just want to be something to someone. -Twilightlova #ihatequotes
this quote is so very me. that's my core. my life is built around that consciousness: that i don't need to be everything to everyone; i just need to be something to someone. it's not important (for me) to make everybody happy, it's important (for me) to make those whom i hold dear to be happy.
personally, i think i've made quite a good progress on being something to someone. i mean something to my children. i mean something to my husband. i mean something to my brothers. i mean something to my 'less count than the fingers on one hand' best friends. i mean something to my parents, my in-laws.
and it makes me tremendously happy when i look in someone's eyes and knows that: that i mean something to them.
heck with everybody else.
live long and prosper.
(just a thot: when i die, who would mourn me? not many, i guess. but it would made my whole life meaningful, if those who do, do so with all their heart)
this quote is so very me. that's my core. my life is built around that consciousness: that i don't need to be everything to everyone; i just need to be something to someone. it's not important (for me) to make everybody happy, it's important (for me) to make those whom i hold dear to be happy.
personally, i think i've made quite a good progress on being something to someone. i mean something to my children. i mean something to my husband. i mean something to my brothers. i mean something to my 'less count than the fingers on one hand' best friends. i mean something to my parents, my in-laws.
and it makes me tremendously happy when i look in someone's eyes and knows that: that i mean something to them.
heck with everybody else.
live long and prosper.
(just a thot: when i die, who would mourn me? not many, i guess. but it would made my whole life meaningful, if those who do, do so with all their heart)
Friday, October 21
karakter (1): bersih itu sebagian dari iman
memang, orang harus bersih. selain menjauhkan penyakit, yang bersih tentunya lebih baik daripada yang kotor.
ini pengamatan saya mengenai perilaku bersih orang di bis:
1: mbak2 berjilbab
mbak2 naik, menempati tempat duduk, membuka tas, dan mengeluarkan kantong kresek dari tasnya. dari kantong kresek hijau mudanya, diambil sebuah arem2. lalu ia melongok lagi ke dalam tasnya, dan mengeluarkan tissue. arem2 dipegang menggunakan tissue; dikupas daunnya, dan dimakan isinya. setelah itu, kulit arem2 dibuang ke lantai bis. si mbak mengelap tangan, mengelap mulut dengan tissue, dan membuang tissue ke lantai bis. lalu ia melanjutkan dengan makan kue manis; kupas bungkus plastiknya, makan isinya, buang bungkus plastik ke lantai bis. sekali lagi, si mbak mengelap tangan dan mengusap mulut memakai tissue. lalu tissue dibuang di lantai bis. si mbak sangat pembersih bukan?
2: ibu2 berambut pendek (BUKAN saya)
seorang ibu dalam bis yang duduk di kursi di depan saya membuka dompetnya. dari dompet ia keluarkan secarik kertas bukti pembelian barang. dilihat2nya kertas tadi, diperhatikan agak lama, lalu dirobek dan dibuang ke lantai bis. lalu si ibu mengambil permen dari tasnya; buka bungkusnya, ambil permennya, dan buang bungkus permen ke lantai bis. sampah dari tas ia buang ke lantai bis. ibu yang pembersih bukan?
berapa sering hal ini terjadi di kendaraan umum? orang2 yang pembersih ini, demi menjaga kebersihan diri atau tasnya, membuang sampah di kendaraan. sungguh kesadaran diri yang amat egoistis. dengan membersihkan dirinya, dia mengotori orang banyak.
mungkin ini salah satu contoh betapa sudah parahnya ke(tidak)sadaran individu negri ini akan tanggung jawabnya sebagai bagian dari kolektif. problem dia selesai, tp itu memulai problem buat orang lain. rasa tanggung jawab untuk menjadikan dirinya bagian dari sistem yang besar, dari sistem yang menyangkut orang banyak, segitu tipis. yang penting gw bersih. toh akan ada orang lain yang beres2.
pemikiran "toh akan ada orang lain yang....." seolah menafikan tanggung jawabnya.
live long and prosper!
ini pengamatan saya mengenai perilaku bersih orang di bis:
1: mbak2 berjilbab
mbak2 naik, menempati tempat duduk, membuka tas, dan mengeluarkan kantong kresek dari tasnya. dari kantong kresek hijau mudanya, diambil sebuah arem2. lalu ia melongok lagi ke dalam tasnya, dan mengeluarkan tissue. arem2 dipegang menggunakan tissue; dikupas daunnya, dan dimakan isinya. setelah itu, kulit arem2 dibuang ke lantai bis. si mbak mengelap tangan, mengelap mulut dengan tissue, dan membuang tissue ke lantai bis. lalu ia melanjutkan dengan makan kue manis; kupas bungkus plastiknya, makan isinya, buang bungkus plastik ke lantai bis. sekali lagi, si mbak mengelap tangan dan mengusap mulut memakai tissue. lalu tissue dibuang di lantai bis. si mbak sangat pembersih bukan?
2: ibu2 berambut pendek (BUKAN saya)
seorang ibu dalam bis yang duduk di kursi di depan saya membuka dompetnya. dari dompet ia keluarkan secarik kertas bukti pembelian barang. dilihat2nya kertas tadi, diperhatikan agak lama, lalu dirobek dan dibuang ke lantai bis. lalu si ibu mengambil permen dari tasnya; buka bungkusnya, ambil permennya, dan buang bungkus permen ke lantai bis. sampah dari tas ia buang ke lantai bis. ibu yang pembersih bukan?
berapa sering hal ini terjadi di kendaraan umum? orang2 yang pembersih ini, demi menjaga kebersihan diri atau tasnya, membuang sampah di kendaraan. sungguh kesadaran diri yang amat egoistis. dengan membersihkan dirinya, dia mengotori orang banyak.
mungkin ini salah satu contoh betapa sudah parahnya ke(tidak)sadaran individu negri ini akan tanggung jawabnya sebagai bagian dari kolektif. problem dia selesai, tp itu memulai problem buat orang lain. rasa tanggung jawab untuk menjadikan dirinya bagian dari sistem yang besar, dari sistem yang menyangkut orang banyak, segitu tipis. yang penting gw bersih. toh akan ada orang lain yang beres2.
pemikiran "toh akan ada orang lain yang....." seolah menafikan tanggung jawabnya.
live long and prosper!
Wednesday, October 19
can you handle the truth?
truth. the whole truth and nothing but the truth.
really?
orang selalu bilang bahwa jujur itu baik, bahwa kejujuran itu membawa kebaikan. bahwa lebih baik jujur daripada engga (saya ga bilang bohong lho. bohong itu bukan sekedar 'tidak jujur' tapi sudah menciptakan 'kebenaran' baru).
tapi apa emang begitu? apa kita bener2 siap untuk selalu berlaku jujur dan menerima kejujuran?
jujur.. berapa kali dalam sehari kita ga jujur = memperhalus kata2 = menyembunyikan yang sebenarnya?
jujur.. berapa kali dalam sehari kita milih diam daripada njaplak mengatakan yang sebenarnya dan menanggung risiko dikeplaki, atau setidaknya dijadikan musuh bersama?
jujur... berapa kali dalam seminggu kita bikin bo'ong putih?
jujur... kapan terakhir kali kita bicara apa adanya 100% tanpa penghalusan, tanpa amplasan, tanpa belok berkelit muter dan menikung?
jujur.. saat orang beri komentar jujur ttg dirimu, apa saja: ttg cara berpakaian lah, perutmu yang gendutlah, caramu jalan lah, yang tak cocok di hati... apa kamu nerima baik2 saja apa adanya ato pake angot dikit?
nope. masyarakat ini ga cukup kuat untuk jujur.
di kateglo dari bahtera.org, jujur diartikan sbb:
jujur
adj 1 lurus hati; tidak berbohong (misal dengan berkata apa adanya); 2 tidak curang (misal dalam permainan, dengan mengikuti aturan yang berlaku); 3..dst
1 - berkata dengan apa adanya
seberapa susahnya sih?
susah banget.
saat kita nekat berkata apa adanya, apa yang mendengarkan mau kita berkata apa adanya? klo ada temen yang udah slordeg, bau pulak, apa loe bakal nekat bilang "kamu berantakan dan bau sekali"? dijamin, mulai detik itu pula kau jadi musuhnya. klo ada orang dengan potongan rambut baru yang ga cocok ama mukenye, apa loe bakal bilang "rambut loe aneh"? mentok2 kita bikin komentar aman "rambut baru ye?" dan dalam hati nerusin "gagal potong tuh". oh.. ini mungkin buat cewe ya... kaum lelaki, berdasarkan pengalaman, agak kurang mahir memperhatikan tatanan rambut orang, kecuali yang benar2 mencolok.
2 - mengikuti aturan yang berlaku
di kantor, dah jelas ada SOP. klo orang tahu isi SOP itu dan nekat melanggar, dia salah. sesederhana itu. tapi coba datengin tuh orang dan bilang dengan gamblang: peraturannya A, loe ngelanggar. ga comply. apa ga naek pitam tuh orang? tetep aja, pas pedekate, kite musti baek2 bilang: maaf (minta maaf? dia yg salah kita yg minta maaf?), menurut peraturan bla bla, kan mustinya gini.. jadi ini salah. bisa tolong dibetulin? sorry, tp klo gini kita ga bisa terima, ato proses, ato apalah.
hmm....
haree geenee, jujur emang tetep lebih baik. tapi musti pake penghalusan. gapapa juga sih, biar hidup lebih aman dan tentram. meski kadang diriku sering nekat apa adanya, dan walhasil, jadi susah diterima orang (sepertinya begitu).
tetap semangad!
really?
orang selalu bilang bahwa jujur itu baik, bahwa kejujuran itu membawa kebaikan. bahwa lebih baik jujur daripada engga (saya ga bilang bohong lho. bohong itu bukan sekedar 'tidak jujur' tapi sudah menciptakan 'kebenaran' baru).
tapi apa emang begitu? apa kita bener2 siap untuk selalu berlaku jujur dan menerima kejujuran?
jujur.. berapa kali dalam sehari kita ga jujur = memperhalus kata2 = menyembunyikan yang sebenarnya?
jujur.. berapa kali dalam sehari kita milih diam daripada njaplak mengatakan yang sebenarnya dan menanggung risiko dikeplaki, atau setidaknya dijadikan musuh bersama?
jujur... berapa kali dalam seminggu kita bikin bo'ong putih?
jujur... kapan terakhir kali kita bicara apa adanya 100% tanpa penghalusan, tanpa amplasan, tanpa belok berkelit muter dan menikung?
jujur.. saat orang beri komentar jujur ttg dirimu, apa saja: ttg cara berpakaian lah, perutmu yang gendutlah, caramu jalan lah, yang tak cocok di hati... apa kamu nerima baik2 saja apa adanya ato pake angot dikit?
nope. masyarakat ini ga cukup kuat untuk jujur.
di kateglo dari bahtera.org, jujur diartikan sbb:
jujur
adj 1 lurus hati; tidak berbohong (misal dengan berkata apa adanya); 2 tidak curang (misal dalam permainan, dengan mengikuti aturan yang berlaku); 3..dst
1 - berkata dengan apa adanya
seberapa susahnya sih?
susah banget.
saat kita nekat berkata apa adanya, apa yang mendengarkan mau kita berkata apa adanya? klo ada temen yang udah slordeg, bau pulak, apa loe bakal nekat bilang "kamu berantakan dan bau sekali"? dijamin, mulai detik itu pula kau jadi musuhnya. klo ada orang dengan potongan rambut baru yang ga cocok ama mukenye, apa loe bakal bilang "rambut loe aneh"? mentok2 kita bikin komentar aman "rambut baru ye?" dan dalam hati nerusin "gagal potong tuh". oh.. ini mungkin buat cewe ya... kaum lelaki, berdasarkan pengalaman, agak kurang mahir memperhatikan tatanan rambut orang, kecuali yang benar2 mencolok.
2 - mengikuti aturan yang berlaku
di kantor, dah jelas ada SOP. klo orang tahu isi SOP itu dan nekat melanggar, dia salah. sesederhana itu. tapi coba datengin tuh orang dan bilang dengan gamblang: peraturannya A, loe ngelanggar. ga comply. apa ga naek pitam tuh orang? tetep aja, pas pedekate, kite musti baek2 bilang: maaf (minta maaf? dia yg salah kita yg minta maaf?), menurut peraturan bla bla, kan mustinya gini.. jadi ini salah. bisa tolong dibetulin? sorry, tp klo gini kita ga bisa terima, ato proses, ato apalah.
hmm....
haree geenee, jujur emang tetep lebih baik. tapi musti pake penghalusan. gapapa juga sih, biar hidup lebih aman dan tentram. meski kadang diriku sering nekat apa adanya, dan walhasil, jadi susah diterima orang (sepertinya begitu).
tetap semangad!
Subscribe to:
Posts (Atom)